Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Cerita Pendek : Bapak Pulaaang Part 3

~ Part 3: Seperti Ibuku dalam cerita riddle, Kang Pena ~

by Google Images

Kang pena adalah pelatih tim sepak bola kami dan posisi mainku berhadapan dengan lawan bernomor punggung 5 itu. Kata Ibu, tadi pagi Kang Pena sempat mampir kerumah. Memang sudah seperti keluarga, Kang Pena dan Bapak, mereka berdua terlihat seperti kakak beradik. Sepintas yang kudengar dari jauh ketika berangkat sekokah, kedatangan Kang Pena kerumah seperti tidak membawa kabar baik.

Sudah 1 pekan ini Bapak tak pulang, akupun tak banyak risau jika tak mendengar kabar darinya. Karena memang bukan pertamakalinya juga Bapak pulang tidak tepat waktu.

...........

Sore itu selepas aku menyantap masakan Ibu, terasa cuaca panas tadi mulai merunduk menurunkan amarah teriknya.

Tapi aku masih heran, kenapa aku masih merasa tidak nyaman. Seperti lebih dari sekedar lelah pulang sekolah.

...........

Semakin gelap, langit pesimis untuk tak bisa lagi menampakkan cahaya panasnya itu. Malam inipun aku harus belajar untuk ujian besok, tapi rasanya aku harus mengunjungi Yuda terlebih dahulu.

Sebenarnya kakiku masih terasa agak sakit, tapi aku pastikan aku bisa menuju rumah Yuda yang tak jauh selang 10 rumah dari tempatku.

..........

' 10 Tahun Silam, Kang Pena sempat satu pekerjaan dengan Bapakku, disalah satu kota metropolitan yang berjarak sekitar 200km dari kampung. Kang Pena adalah orang pertama yang melihat sebuah mobil berhenti dalam kondisi tidak baik dan menempel ke pembatas jalan saat itu. Hampir setiap hari Bapak dan Kang Pena memang sering berboncengan menuju dan sepulang dari tempat kerjanya. Tepat Pukul 21.45 WIB, Kang Pena memberhentikan motor dengan CC 125 ini mendekat sekitar 3 meter dari Mobil hitam yang dilihatnya dan menyahut Bapak dengan rasa penasaran.

"Itu kenapa?, sebentar A, kita lihat dulu mungkin ada korban didalam...", sahut Kang Pena kepada Bapak dengan menduga mobil itu baru saja mengalami kecelakaan tunggal.

Terlihat 2 orang perempuan yang berbeda usia.

Tepat menghadap stir mobil, perempuan ini terlihat masih berusia tak jauh seperti Bapak dan Kang Yuda saat itu. Namun yang duduk disebelahnya seperti paruh baya dan terlepas dari sabuk pengaman. Mereka berdua terlihat tak sadarkan diri. Bahkan kedua tangannya seperti hilir aliran darah yang keluar dari entah bagian tubuhnya yang mana. Wajahnya terlihat memar, namun perempuan paruh baya tadi hanya terlihat punggung dan rambutnya yang semuanya hampir berwarna putih, itupun porak terlepas dari jepitan.

Dalam kondisi itu, jalanan pada jam tertentu memang sangat sepi. Apalagi jam pulang kerja Bapak dan Kang Pena yang lembur bisa sampai hampir pukul 11 malam.

Tak ada ada orang lain yang lalu lalang, sesekali banyak pengendara motor melesat cepat terlihat ingin pulang. Itupun terhitung dengan jari dan terlihat lewat didepan kami.

Karena tak tega dan merasa bingung tak karuan, akhirnya Bapak menghubungi polisi dan melaporkan apa yang dilihatnya. Sembari Kang Pena memastikan korban dengan memanggil manggilnya, siapa tahu terbangun. '

.........

Sepanjang jalan menuju rumah Yuda, aku sempat berpapasan dengan lawan bermainku saat pertandingan sepak bola tadi. Aku tidak benar-benar mengenalnya dan mungkin ini pertama kalinya aku melihat dia ada disekitaran dusun tempat tinggalku.

Setiap kaki yang ku langkahkan, seiring dengan rasa tak karuan, rasanya semakin kesal saja aku. Benar-benar heran tak nyaman. Apakah aku dendam dengan no punggung 5 itu?. Tapi sedari tadi mulai keluar rumah rasanya sama saja sudah begini, bahkan sedari tadi pulang sekolah.

Seperti ada yang mengganjal dalam hati namun sulit diketahui apa maksud semuanya ini.

Terdengar adzan isya dari arah sebelah kananku, sekira 2 rumah lagi aku sampai kerumah Yuda.

Sempat menengok ke belakang setelah sayup adzan berhenti, rasanya seperti ada yang mengikuti. Perasaan ini pun sama beriring seperti tadi saat aku menuju rumah sepulang sekolah. Tak sempat membalikan wajah aku melihat sosok nenek tua berjalan bungkuk memotong arah penglihatanku.

.......

"Assalamualaikum.... Yud, Yudaa... Misi Bu, Yudanya ada?", sapa ku ketika sosok Ibu yang terlihat lebih senior dari Ibuku keluar rumah. Aku pun menanyakan Yuda, dengan tujuan meminjam buku belajar soal latihan.

To be Continue

Cerita Pendek : Bapak Pulaaaang....

Baca Buku - Media Indonesia


~ Part 1: Makanan dan Terlelap ~

"Slreeeekkkk.... (suara resleting tas dibuka),, ini apaan pak?"

Sambil mengeluarkan bungkusan plastik hitam yang ada didalam tas, aku bertanya pada bapakku.

Malam itu, sekitar pukul 21.15 WIB aku baru saja akan memejamkan mata, berharap tidur pulas karena esok ada ujian di sekolah.



Oh iyah usiaku baru 11 tahun dan duduk dibangku kelas 5 Sekolah Dasar Negeri. Dengan wajah lugu dan sedikit mengantuk, dalam hati berharap bapak membawa makanan. Memang hari itu ibu tidak sempat memasak untuk makan malam, aku pun tak tau alasannya kenapa.

Bagiku itu sudah biasa, dan akupun terbiasa dengan pola makan dua kali sehari pagi dan sore.

"Pak, kok isinya baju? Aku kira isinya makanan... Hmmm..", sambil memasang wajah kecewa dan sedikit malas bicara lagi.

"Bapak tak sempat beli makanan Nak, kamu tidur lagi aja gih besok bapak belikan bubur kesukaanmu", sahut bapak yang mencoba merayuku.

Memang malam itu rasanya lapar sekali tidak seperti biasanya, mungkin karena seharian tadi aku bermain bola dan dilanjut belajar untuk ujian besok. Rasanya lelah, entah tidurku nanti nyenyak atau tidak, padahal perutku rasanya semakin lapar.

Akupun menghiraukan bungkusan plastik hitam yang tadi sempat kuintip dan terlihat sedikit jelas kalo itu ternyata berisi baju.

Aku pun memutuskan untuk tidur saja, karena rasanya malam sudah larut sekali untuk anak usiaku.

"Yaudah aku tidur ya Bu, Pak", jelasku meninggalkan mereka untuk menuju tempat tidur.

..........

Entah pukul berapa, aku sempat terbangun karena mendengar suara orang tuaku yang saling berteriak. Aku kira mereka sedang bertengkar karena sesekali diselingin dengan suara bantingan barang ke lantai.



Aku pun merasa takut dan sedikit gelisah, entah sadar atau tidak mataku rasanya masih sangat mengantuk tapi telingaku tak bisa mengabaikan suara mereka.

Tak berselang lama, kakiku rasanya sakit seperti ada yang memukul dan sesekali meneriakan namaku, memanggilku untuk bangun.

Bagaimana bisa seorang anak usiaku yang sedang lelap tertidur, terganggu tengah malam dengan suara orang dewasa bertengkar. Akupun melupakan semua itu dengan wajah sedikit sendu. Aku paksakan untuk tidur....

Statistik Blog