KARENA HANYA SESAAT

Bismillah,

Izinkan saya kembali bercerita, kepada para pembaca yang saya cinta  :D

Tadi siang sempat saya mendapat inspirasi untuk menjadikan suatu tulisan yang akan saya ceritakan ini. Inspirasi yang me-refresh saya betapa pentingnya menikmati & mensyukuri suatu keindahan, suatu perhatian, suatu hal yang bisa menjeda waktu kita sesaat untuk merasakannya, untuk merenungkannya. Karena memang pada kemunculan hal itu, mungkin hanya sesaat. Mungkin hanya orang-orang beruntung dan atas kehendak-Nya kita dipertemukan dengan sesaat yang berarti itu. Sa’atan-sa’atan semua ada saatnya.



Pernah saya merasa kesepian, pernah saya seakan hanya ditemani dinding sebelah ranjang, rak piring dipojok dapur, meja tempat belajar, bahkan nyamukpun luput dari keinginan untuk menemani saya. Disitu saya merasa, apakah ada yang memperhatikan saya? Apakah ada yang tau akan kehadiran saya ditengah-tengah mereka? Apakah ada yang mau mengingatkan saya dalam kebaikkan? Dan.. Pernahkan anda merasakan hal yang sama seperti saya?

Kembali saya membuka lembaran buku yang sedang saya baca, belum lama buku itu mendarat ke tempat saya. Berbeda dengan buku sebelumnya, buku ini pada mulanya berbahasa arab, Alhamdulillah dengan izin Allah buku tersebut selesai diterjemahkan oleh guru kita Ust. Abdul Somad, LC., MA. Buku yang berjudul “Semua ada saatnya” atau dalam buku yang masih berbahasa arab berjudul ”Sa’atan-sa’atan” . Buku tersebut karya Syaikh Mahmud Al-Mishri dari Mesir. Alhamdulillah berangsur saya membuka lembar per lembarnya, lagi-lagi ada saja bagian yang menepuk pundak saya, yang secara langsung ter-korelasikan dengan kondisi saya.

Mungkin diantara teman-teman pembaca, ada yang pernah menjadi rekan seperjuangan dengan saya. Rekan ketika saya merasakan nikmat belajar dibangku kuliah, dikampus ibu kota. Beruntungnya saya pun dapat belajar banyak dari kalian, banyak bertukar pendapat dan pengalaman dengan kalian (bahkan sampai sekarang). Namun, seperti diawal saya bercerita, saya malah pernah merasa sepi diantara kalian, Alhamdulillah sekarang saya sadar melalui kalian pula saya bisa seperti sekarang. Terima kasih saya ucapkan dengan banyak dan sangat.

Dalam salah satu riwayat diceritakan, Imam Abu Hanifah pernah memiliki tetangga seorang tukang sepatu. Orang tersebut memiliki kebiasaan yang cukup mengganggu dan terdengar oleh tetangga sekitar termasuk Imam Abu Hanifah. Orang itu selalu bernyanyi ketika malam, bait per bait dia lantunkan dengan makna kurang lebih seperti, orang itu merasa telah disia-siakan, merasa semua orang tidak memperhatikannya. Sambil bernyanyi dalam lantunan, kebiasaan buruknya itu ialah bermabuk-mabukkan karena meminum khamar. Setiap malam Imam Abu Hanifah mendengar ocehannya itu. Suatu ketika ocehan itu tak lagi terdengar, ketika Imam Abu Hanifah bertanya-tanya kemana tukang sepatu itu. 

Mereka tetangga yang lain menjawab, bahwa orang tersebut sudah ditangkap polisi setempat dan sekarang telah dipenjara. Imam Abu Hanifah merupakan seseorang yang dihormati, beliau menjadi panutan dan bahkan Gubernur pun segan dengannya. Hingga beliau berkunjung ketempat dimana tukang sepatu itu dipenjara, Imam Abu Hanifah meminta izin kepada Gubernur untuk melepaskan tetangganya itu. Beliau bertanya kepada Gubernur, “Saya mempunyai seorang tetangga, ia tukang sepatu. Ia ditangkap polisi sejak beberapa malam yang lalu, apakah gubernur sudi melepaskannya?”. Gubernur pun melepaskannya atas permintaan Imam Abu Hanifah, hingga tukang sepatu itu lepas dan mengikuti berjalan dibelakang Imam Abu Hanifah. Lalu beliau bertanya kepada orang itu, “Wahai pemuda apakah kami telah menyianyiakanmu?”

Pemuda tukang sepatu itu menjawab, “Tidak, engkau telah menjaga dan memperhatikan kami. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan karena kemuliaan bertetangga dan menjaga hak orang lain.” Kemudian pemuda itu bertaubat dan tidak kembali kepada perbuatannya yang lalu.

Dari kisah itu, saya teringat dengan teman-teman saya yang seperjuangan dulu, kami pernah bertetangga (beda tempat tidur) karena kami diasramakan dalam satu atap. Saya menyesal karena saya selalu merasakan disia-siakan, mereka yang pada akhirnya memberi pelajaran kepada saya dalam kesuksesan mereka saat ini, dalam kondisi pekerjaan mereka setelah lulus saat ini, dan kabar baik yang mereka bagikan kepada saya saat ini.

Sungguh saya malu, karena hanya sesaat saya bertemu mereka belum sempat saya berterima kasih dengan seksama akan pelajaran yang diberikan, atas perhatian yang diberikan diluar kesadaran saya. Bahkan mungkin pernah dalam keadaan sadar, saya mengabaikannya. Sa’atan-sa’atan, andai itu terjadi setiap saat saya akan merasa lebih beruntung. Namun, karena saya tahu keindahan, perhatian, dan kebaikkan seseorang ada saatnya karena terbatas kebersamaan yang sudah tak adalagi. Bahkan keindahan pelangipun hadir hanya sesaat, terbit dan tenggelamnya matahari yang indah pun hanya sesaat. 

Karena hanya sesaat itulah kita harus sadari,bahwa mereka (teman-teman, tetangga, dan orang sekitar) perduli kepada kita. Namun, tidak selamanya mereka berada disisi kita. “Terkadang ada hak orang lain yang perlu kita jaga dan bantu untuk menerima kebaikan, menjaga keimanan dengan saling mengingatkan”.

Terima kasih kepada rekan-rekan, semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk kita semua dan saya khususnya. #note: sebernanya banyak yang ingin masih disajikan, :P

0 Comments:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan relevan :) Blogwalking with sharing...

Statistik Blog