Semalam saya sempat ngobrol dengan sobat saya sambil sekedar ngupi dan ngunyah beberapa makanan. Disitu kita bertukar cerita seputar pekerjaan, mengenai kenyamanan bekerja, mengenai jenjang karir dan sebagainya.
Ternyata memang banyak ketidaksadaran ketika kita bekerja tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dikerjakan, sehingga membuat hasil yang diperoleh ini serasa tidak berkah selalu kurang.
Sebelumnya saya mendapat suntikan ketika saya mengikut kegiatan perusahaan untuk meeeting, panjang lebar saya mengikuti rapat tersebut. Hingga bnyak ilmu yang bisa saya peroleh, tinggal bagaimana saya mampu menerapkannya atau tidak. Semoga saya bisa menrapkannya dengan baik.
Bekaitan dengan rasa syukur dan kesadaran akan Rejeki yang kita dapat dari hasil bekerja. Tanpa disadari terkdang kita merasa lupa akan nikmat rejeki yang berasal dari-Nya. Kita selalu berfikir bahwa hasil yang kita peroleh ini atas kerja keras kita dan tentunya pemberian atasan kita atau pemimpin perusaahan yang berwenang memberi upah kepada karyawannya.
Hayo kalo gaji masih dipending? Gimana ekspresi kamu? Apa yang kamu pikirkan? Takut lapar yah??? hayooo ngaku??? Jangan takut rejeki itu datangnya bukan dari ATASAN ko.
Tidak sedikit orang yang resah ketika honor atau gajinya tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak sedikit pula kelupaan atas pemberian yang MAHA KAYA diabaikan ketika gaji atau honor telat dikeluarkan.
Bagaimana bisa kita takut lapar karena belum menerima Uang dari atasan? Sedangkan rejeki datangnya bukan dari Pimpinan Perusahaan melainkan dari yang MAHA KUASA .
Sadarkah kita akan hal itu?
Pekerjaan yang diceritakan oleh teman saya itu, membuat saya yakin dan sadar bahwa banyak orang bisa melakukan apapun untuk mendapatkan uang ketika dia merasa lapar atau ada hal-hal yang dia butuhkan. Sehingga dia bisa mendewakan atasannya bisa menipu atasannya, atau bahkan melakukan kejahatan dan hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri.
Tidak sedikit pula orang yang putus asa ketika harus menerima keputusan bahwa Kontrak Kerjanya habis tidak diperpanjang atau jadi karyawan tetap, bahwa dia harus berhenti dari pekerjaannya karena dipecat dan sebagainya. Keputus-asaaan itu yang membuat mereka melupakan dari mana Rejeki itu turun.
Dari situ saya berharap bahwa kita bisa saling mengingatkan akan keberkahan hasil yang kita peroleh itu sesungguhnya dari yang Maha Kaya.
Jangan kecewa ketika hasil yang diperoleh dianggap sedikit, mungkin memang kita masih belum menjalankan pekerjaan kita dengan baik, maka sejumlah itulah keberkahan yang seharusnya diperoleh. Tidak usah takut akan kemiskinan semntara kita punya yang Maha Kaya.
Tidak boleh memakan hak yang bukan milik kita, Jalani Nikmati dan Syukuri... lakukan yang terbaik dan percayalah Rejeki itu datangnya dari yang Maha Kuasa.
Semoga bermanfaat...
Salam hangat untuk kita semua.
Ngena banget artikelnya. Emang kadang kita terlalu mendewakan pekerjaan ataupun atasan yang memberi gaji kita, sampai sampai kita lupa bahwa mereka merupakan perpanjangan tangan dari NYA Sang Maha Pemurah.
BalasHapusSemoga bermanfaat kaka... hehe.. makasih sudah berkunjung
Hapus