Tidak terkecuali para mahasiswa yang masih rentan dan berpotensi tidak bisa mengendalikan mental block yang dimilikinya. Kegiatan sehari-sehari yang membuat sebagian besar para mahasiswa tidak dapat dan tidak mau membuka wawasan baru selain lingkungan kampusnya. Tapi tak sedikit pula mahasiswa yang mampu bertahan dan berkembang dalam menambah wawasan selama masa perkuliahan.
Kegaiatan sehari-sehari ini memang membuat otak kita selalu berfikir dalam lingkup akademik, kegiatan mahasiswa diluar kuliah adalah pewarna dan pelengkap yang sifatnya non-akademik. Tugas perkuliahan dan perintah dari atasan membuat mahasiswa dalam lingkup ini menjadi giat dan aktif. Sementara mereka, mahasiswa yang mampu membuka pikirannya dan selalu berkata "dunia ini luas, tak hanya kampus yang menjadi mata pencaharian ilmu kita". Mereka terkadang terlena dalam kewajiban kuliah mereka saat ini.
Layaknya Yin dan Yang, kedua sisi ini membuat saya tertarik untuk menuliskan beberapa pendapat terkait mental block seorang mahasiswa.
Contoh kecil untuk membahas mental block dalam diri yang saya alami adalah ketika berkumpul dalam suatu forum yang mana didalamnya terdapat mahasiswa hebat dan cekatan dalam berpendapat. Awal yang mulus ketika saya berani untuk mengangkat suara akan pendapat yang saya miliki. Ternyata pendapat ini hanya menjadi bahan cemoohan dan nyatanya membuat saya menjadi jatuh dipermalukan. Lebarnya senyum mereka membuat makna negatif bagi diri saya.
Hal tersebut membuat saya menjadi trauma setelahnya, sekalipun ada perkumpulan atau sebuah forum saya enggan untuk berpendapat. Hingga saya merasa pendapat saya terwakilkan oleh mereka. Saya berfikir dan mengendalikan hal tersebut. This is a gambling! Kita semua sama, memiliki kapasitas yang sama, mampu menalar dan bernaluri sama. We are human...
Hingga saat ini saya berani berpendapat dan akhirnya sempat mendapatkan posisi tertinggi dalam sebuah perkumpulan.
"Ini adalah sebuah kendala atau hambatan dalam pola pikir seseorang yang membuat diri orang tersebut menjadi terbatas dan membatasi kemampuan diri. Mungkin ini hanyalah presepsi yang secara langsung mengunci pikiran seseorang karena kesalahpahaman atau suatu kejadian yang membuatnya trauma, pengalaman masa kecil, lingkungan yang mempengaruhi alam bawah sadar."
- Rais Jaka Purnama -
That is make your mental block...
Mahasiswa nyatanya penuh akan teori dan motivasi sebuah hasil yang digambarkan oleh suatu nilai, hingga menuntun mereka sampai ketingkat akhir. Terbiasa menghafal dan aktif ketika diperintah untuk mengerjakan suatu tugas membuat diri mereka terbatas ketika semuanya sudah terselesaikan. Tugas yang saat ini tidak mereka rasakan, prestasi kelas yang saat ini tidak lagi tergambarkan membuat pengaruh pola pikir yang terbatas akan dunia luar. Sebaliknya denga mereka yang terlalu dini untuk mengenal lingkungan luar, justru terlena dan selalu mengabaikan tugas yang seharusnya mereka kerjakan. Katakanlah A bagi mahasiswa berprestasi dan B bagi mahasiswa yang mengabaikan tugas dan kewajiban.
This is the mental block.
Apa akibatnya, A akan berhenti berfikir saat ini ketika semua tugasnya terselaikan, mereka akan merasa diri mereka terbatas akan nilai sosial yang menjadi batu loncatan orientasi dunia luar. A akan merasa malas dan mungkin malu, karena pola pikir yang terbangun dalam dirinya (ini bukan tempat saya, ini bukan dunia saya dan saya pun belum mendapat perintah dari siapapun). B dia akan terjebak dengan hal yang dia senangi saat ini dan enggan untuk bersosialisasi dengan sebuah teori dan pola pikir akademik (etika yang berkurang, keseriusan yang terabaikan, dan rasa pahit untuk kembali merasakan dunia pendidikan akademik)
Bagaimana solusinya ?
Kendalikan dan seimbangkan prilakumu. itu adalah mental block dalam dirimu, suatu hambatan yang seharusnya kamu bisa memecahkannya. Kita semua diciptakan sama, tetap berusaha dan sesuaikan diri setiap waktu.
Terima kasih telah berkunjung dan saya ingin meminta solusi dan pendapat kalian akan fenomena ini,

Saling melengkapi aja, nggak perlu ada yang berubah, dan saling memaklumi, insyaallah damai dunia, hehe,
BalasHapusBner banget bang, kelengkapan ini yang kadang salah satunya ingin mendominasi... jika saja tidak ada kata minoritas maupun mayoritas.. untuk 2 orang yang berpasangan mungkin bisa melengkapi tapi entah untuk lebih dari itu yang selalu ingin berkompetisi... Maksih sudah berkunjung, jauh-jauh dr palembang :D
BalasHapusKita semua diciptakan sama. Lingkungan pergaulan, pemikiran dan self control yang membuat manusia menjadi berbeda.
BalasHapusyap,,, seperti yang saya bilang... mungkin sejak dini memang harus dilakukan pencegahan lingkungan pergaulan dan ajari self control...
Hapusbetul itu kita harus seimbangkan mental block kita apakah kita dijalur A atau mau di Jalur B
BalasHapusbukan seimbangkan mental block, tapi bagaimana kita bisa mengendalikan ketakutan yang menjadi penghambat kita... termasuk untuk tidak takut menyeimbangkan kemampuan A dan B
BalasHapus