Kabupaten Purwakarta yang berada diprovinsi Jawa barat ini mempunyai beberapa tempat wisata yang tersembunyi diantaranya adalah situ wanayasa. Jika kita hendak pergi ke arah Bandung melewati daerah Kab. Subang dan Kab. Purwakarta pasti akan melihat tumpukkan air yang ditengahnya terdapat pulau kecil nan unik.
Sebelah kiri pemotret :D
Situ ini terbentuk secara alami akibat letusan gunung, yang sampai saat ini masih memiliki air yang jernih dan terjaga. Keberadaan penghuni air tesebut pun masih banyak dan selalu diburu oleh para pemancing ikan. Hal itu terlihat disepanjang pinggir situ selalu dikunjungi oleh para pemancing yang secara rutin mengisi tempat area pemancingan yang disediakan.
Sepanjang jalan arus bolak balik
Disepanjang jalan Situ Wanayasa terdapat beberapa pedagang yang dapat memanjakan lidah para pengunjung dan pengemudi kendaraan yang hendak singgah ditempat tersebut. Wisata kecil yang ada juga dapat memanjakan para pengunjung dengan sensasi angin ditengah kesejukan situ. Seperti penyewaan perahu kecil yang berbentuk bebek dan semacamnya dapat digunakan dengan cukup membayar biaya sewa yang cukup murah. Bagi para pasangan sejoli, tak heran jika tempat ini sering dikunjungi karena dengan suasana yang mendukung dan ketenangan air untuk sekedar melupakan kepenatan dan memunculkan keharmonisan saat berdua.
Segumpal tanah yang membentuk pulau mini
Pulau mini yang berada ditengah situ ini dapat kita singgahi dengan cukup membayar biaya masuk dan parkir kendaraan saja. Didalamnya tentu suasana pegunungan dapat kita dapatkan apalagi diwaktu pagi dan sore hari yang cukup membuat kita merasa segar dan santai. Banyak para family menghabiskan waktunya untuk sekedar makan bersama dan menikmati pemandangan kaki gunung dan ombak kecil Situ Wanayasa.
Dari referensi yang saya dapat (http://blogs.unpad.ac.id/kknmwanayasa2011/2011/02/12/sejarah-wanayasa/)
Pada zaman Kerajaan Sunda (Pajajaran), tercatat dalam beberapa naskah kuno, antara lain Carita Parahiyangan dan Bujangga Manik, di Wanayasa terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Saung Agung dengan rajanya Ratu Hyang Banaspati. Ada dugaan bahwa Batu Tapak di Cekselong (Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa) merupakan tinggalan pada masa itu. Walaupun kepastiannya memerlukan penelitian lebih lanjut. Kerajaan Saung Agung merupakan kerajaan-wilayah Kerajaan Sunda terakhir yang ditaklukkan oleh Kerajaan Cirebon pada masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Pada tahun 1530, bagian utara Tatar Sunda yang berbatasan dengan Sungai Citarum, sebelah timur telah dapat dikuasai oleh Kerajaan Cirebon. Sedangkan bagian barat dikuasai Banten. Nama Saung Agung, menurut Edi S. Ekadjati kemudian diganti dengan Wanayasa, yang merupakan reduplikasi dari nama yang dibawa dari Cirebon. Hal itu tampaknya ditandai pula dengan banyaknya kesamaan nama tempat yang berada di Wanayasa dan sekitarnya (termasuk Purwakarta) dengan nama yang terdapat di wilayah Cirebon (termasuk Kuningan, Majalengka, dan Indramayu). Nama-nama itu antara lain: Wanayasa, Sindangkasih, Ciracas (di Cirebon Caracas, sama dengan di Kalijati), Cibuntu, Panembahan, Pawenang, Lemah Duhur, Gandasoli, Leuwihujan, Gembong (di Cirebon Gembongan), Maniis, Plered, Palumbon (di Cirebon Plumbon), Bunder, Bongas, Depok, dan banyak lagi yang lainnya.
Ternyata walaupun seperti itu adanya Situ Wanayasa haruslah kita jaga dengan baik dan semoga dijadikan tempat yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Milik kita bersama, wisata Indonesia. :D



0 Comments:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan relevan :) Blogwalking with sharing...